Riuh Sunyi Dunia Pantomim

99160b7e8a8ee72bcece648fb24bd306-FAK_0737
November 20,2025

Riuh Sunyi Dunia Pantomim

Keramaian pada Minggu (16/11/2025) di Jakarta saat hari bebas kendaraan bermotor tak seperti biasanya. Di tengah lalu lalang aktivitas warga, sekelompok orang dengan wajah bercat putih bergerak tanpa suara. Aksi mereka sunyi, tapi warga yang menyaksikannya tertawa riuh. Mereka adalah para seniman pantomim yang tampil di jalanan Ibu Kota.

Tiba-tiba koper yang dibawanya seolah melayang dan sulit digerakkan. Sontak aksinya itu membuat warga yang menyaksikan tertawa. 

Beberapa kali usahanya untuk menarik koper itu gagal, hingga akhirnya Dede mengajak warga untuk membantu dirinya mengambil koper ”superberat” itu. Dengan hanya satu jari, warga tersebut mengangkat koper.

”Kalau tampil di depan umum, kekuatan gimik itu harus powerful. Setelah 1-2 menit enjoy menyaksikan, kita bisa melanjutkan dengan cerita pendek,” ujar Dede saat menjelaskan kesulitan tampil di jalanan.

Menurut Dede, berpantomim di tempat umum penuh tantangan. Tidak semua warga dapat mudah tertarik dengan kesenian pantomim. Selain penampilannya yang didominasi tanpa suara, penonton harus menyaksikan dengan saksama agar dapat mengerti alur cerita yang ditampilkan pantomimer.

Karena itu, Dede dan pantomimer yang lain menggunakan trik gimik yang dapat mencuri perhatian orang di sekitarnya. Beberapa gimik itu seperti tiba-tiba bernyanyi seriosa dengan artikulasi tidak jelas, jatuh di kerumunan, dan sebagainya.

Berpantomim di jalanan menjadi hal yang biasa bagi Dede. Pada medio 2000-an awal, Dede yang berdomisili di Bandung acap kali tampil di beberapa jalan di Kota Kembang. Aksinya itu sebagai bentuk protes atas sulitnya pantomim mendapatkan ruang untuk tampil di gedung pertunjukan kala itu.

Namun, saat ini warga sudah akrab dengan kesenian pantomim. Pantomim kini mulai dipertunjukan di berbagai gedung kesenian, baik dalam seni tunggal maupun kolaborasi dengan seni yang lain.

Salah satu tokoh pantomim, Septian Dwi Cahyo, sudah mendeklarasikan gerakan Fun to Mime sejak 2011. Gerakan ini sebagai cara untuk memperkenalkan kesenian pantomim agar akrab di masyarakat.

”Jadi, pantomim yang seni keheningan ini ternyata bisa masuk ke dalam unsur seni jadi sebuah pertunjukan yang menghibur. Keinginannya, pantomim ini masyarakat bisa menyenangi (pantomim) dari berbagai macam sudut,” tuturnya.

Regenerasi pantomimer

Seni pantomim yang mulai berkembang menarik minat generasi baru untuk masuk ke dalam kesenian ini. Salah satu cara mencari bibit baru pantomimer ini melalui jalur prestasi lewat Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional di bawah Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.

Salah satu pantomimer generasi baru yang tampil adalah Safi Ranu Dimarastya. Baru satu tahun ia mencoba kesenian pantomim. Perkenalannya dengan pantomim berawal dari ajakan sang kakek untuk melihat pantomim.

”Sesudah lihat pantomim, jadi tertarik buat ikutan. Kebetulan waktu kelas 6 SD ada ekskul pantomim di sekolah,” ujar Ranu yang bersekolah di SDN Cipete Selatan 01, Jakarta.

Gerakan Ranu saat tampil belum luwes sepenuhnya. Akan tetapi, imajinasinya dalam bercerita lewat gerak dan mimik wajah dapat menghibur warga yang menyaksikan.

Make A Comment

About Author

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus err sit voluptatem accusantium dolore mo uelau dantium totam rem aperiam eaque ipsa quae ab illo inven.