Mengusung tema Funtomime (Fun with Mime), Jakarta Pantomime Festival (JakMime Fest) siap digelar 25-26 November di Kawasan Kota Tua Jakarta. Diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi DKI Jakarta yang bekerja sama dengan Asosiasi Seniman Pantomim Indonesia (ASPI), JakMime Fest hadir sebagai wadah kolaborasi, edukasi, dan ekspresi bagi seniman pantomim lintas generasi dari seluruh Indonesia.
Salah seorang maestro pantomim Indonesia Septian Dwi Cahyo mengungkapkan, tema Funtomime merupakan perpaduan seni pantomim dengan berbagai bentuk seni lain seperti tari, puisi, teater, magic, tradisi/budaya, dan multimedia.
Konsep ini menegaskan bahwa pantomim bukan seni yang kaku, melainkan terbuka, inklusif, dan terus berevolusi mengikuti zaman.
“Seni pantomim dikenal sebagai bentuk seni pertunjukan yang unik karena sepenuhnya mengandalkan kekuatan ekspresi tubuh dan ekspresi tanpa kata-kata,” kata Septian melalui siaran pers, Rabu, 19 November 2025. Di tengah maraknya hiburan digital dan budaya populer, kata dia, pantomim tetap bertahan sebagai seni yang menawarkan hiburan yang penuh makna, menggugah rasa, dan menyampaikan pesan sosial dengan cara yang sederhana, namun mendalam.
Septian menjelaskan, JakMime Fest 2025 lahir dari keinginan memberi ruang kreatif bagi seniman pantomim untuk menemukan bentuk pertunjukan pantomim bernuansa tradisi Betawi serta kebutuhan ruang apresiasi yang lebih luas bagi para seniman pantomim.
Di Jakarta, komunitas pantomim telah berkembang sejak era 1980-an, namun masih minim kesempatan tampil di ruang publik. Melalui festival ini, Jakarta ingin membuka kembali pintu bagi seniman muda, komunitas, dan masyarakat luas untuk merayakan seni tubuh yang universal. Dalam semangat Jakarta menuju kota global, melalui seni pantomim dengan bahasa gerak tubuh dan ekspresi yang universal akan memperkenalkan budaya Betawi kepada dunia.
Festival pantomim tersebut akan menampilkan, pertunjukan utama di panggung besar, menghadirkan seniman pantomim lintas generasi dari berbagai daerah.
Kemudian, street performance di ruang-ruang publik yang menghadirkan interaksi langsung antara seniman dan masyarakat. “Selain menjadi tontonan, JakMime Fest juga menjadi ruang edukasi dan kolaborasi. Kami juga melibatkan berbagai pihak seperti komunitas seni, sekolah seni, media, dan para desainer busana profesional,” ujar Septian. (*)
